Jumat, 12 Juni 2020

Blended learning sebagai model pengajaran abad ke-21

Belakangan ini, lagi rame di kalangan guru istilah blended learning. Beberapa menyebut dengan istilah Blender. 

Sebenarnya apa sih blended learning itu?

Dan, bagaimana blended learning ini membantu kita dalam proses pengajaran?

Dari asal katanya, blended learning atau program pengajaran yang dipadukan. Di kita ada yang menyebutnya program pengajaran bauran atau pengajaran terpadu. Apapun istilahnya, esensi dari blended learning adalah mengkombinasikan antara pertemuan secara luring – atau pertemuan tatap muka – dengan pertemuan daring yang menggunakan teknolgi. Lintas ruang, jarak dan waktu. 

Proses ini tidak serta merta bisa kita sebut dengan blended learning ketika ada 2 elemen itu. Dua elemen itu baik yang luring dan daring harus diintegrasikan dengan sangat baik sehingga menghadirkan aspek pedagogik yang berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya.

Konsepnya sederhana. Ada hal-hal yang bisa kita sampaikan dengan platform daring tapi ada juga memang perlu adanya pertemuan secara langsung.

Secara esensi ada 3 hal yang perlu kita perhatikan saat akan merancang program dengan blended learning.

Yang pertama, 

program blended learning ini harus memungkinkan terjadinya interaksi yang positif antara instruktur dan murid. Jadi harus selalu ada kontinuitas interaksi. Tidak bisa hanya sekedar ada video, kemudian tidak ada interaksi antara guru dengan murid. Setelah menonton video murid tidak mendapatkan umpan balik. Tidak ada sesuatu yang membuat murid ini akhirnya melakukan proses berpikir dan seterusnya.

Maka interaksi ini menjadi salah satu poin kunci ketika kita akan menerapkan blended learning

Yang kedua,

Dalam proses blended learning, karena ada bagian yang dilakukan secara daring, maka kita sebagai instruktur kita perlu memberikan proses pendampingan yang berkesinambungan dengan murid.

Tidak jarang murid itu mengalami kesulitan, tidak jarang murid mengalami hambatan ketika mengikuti proses pengajaran dengan sistem blended learning. Maka sebagai instruktur kita perlu secara reguler menanyakan. Untuk kemudian memberikan pendampingan kepada murid-murid kita.

Yang Ketiga,

Integrasi antara pertemuan daring dengan pertemuan luring. Sebisa mungkin proses ini harus terjadi dengan sangat minim jarak. Maksudya tidak ada perbedaan yang sangat signifikan. Jadi jangan sampai proses luring nya tidak berkaitan sama sekali dengan proses daringnya. Dan sebaliknya, jangan sampai proses belajar daring tidak berkaitan dengan proses luring.

Contoh misalnya, 

Ketika dalam proses belajar daring murid dan kita menggunakan teknologi tertentu yang memicu interaksi di sana, tapi kemudian saat pertemuan luring tidak sama sekali membahas atau berkaitan dengan proses daring yang sebelumnya. Tidak ada refleksi terhadap pertemuan daring nya. Tidak ada proses diskusi lebih lanjut, dan seterusnya.

Jadi aspek integrasi ini perlu kita perhatikan dengan baik. Jangan sampai kita hanya sekedar memindahkan proses belajar di kelas konvensional menjadi video pembelajaran yang bisa diakses secara daring.

 
sumber:
Anggayudha (Aye), Sekolah.mu, Head of teacher development, IG: @ayesaja
 

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts